Sejarah Seni

Standar

Sejarah Seni Zaman Prasejarah dan Seni Kuno
Sejarah seni pada bagian pra sejarah (200.000 SM – 10.000 SM), berdasarkan kumpulan bukti-bukti dari masa paleolitikum, sampai megalitikum memperlihatkan bahwa seni merupakan alat pemujaan dan ritual. Seni dijadikan sebagai perwujudan rasa takut dan tunduknya mereka kepada sesuatu yang disembah saat itu.
Pada masa itu, seni seperti bercerita. Seni, berbentuk lukisan yang ada di gua-gua. Saat itu, manusia tidak begitu peduli terhadap bentuk yang diciptakan. Yang terpenting adalah seni tersebut memenuhi fungsinya. Roda, gerabah, tombak, cangkul, merupakan hasil kriya yang tidak peduli akan pemenuhan estetika tersebut.
Terlihat dari seni-seni yang ada di negeri seribu dewa, Yunani. Seni Yunani memperlihatkan patung Zeus yang perkasa. Di Mesir papirus bergambar sudah menggambarkan fungsi, narsistik, dan komunikasi sekaligus. Fungsi yang sama ditemukan pula pada tembikar yang telah menemukan bentuk estetiknya, dengan telinga dan komposisi yang beragam.
Intinya, penemuan bentuk seni yang terjadi pada masa kuno sudah cukup jauh bergeser dari yang terjadi pada masa pra sejarah. Seni mengalami perubahan yang pesat. Dan hal ini, merupakan sejarah seni, yang melatari terjadinya seni pada fase seperti sekarang ini.

Sejarah Seni Medieval di Eropa dan Islam
Pada masa medieval (800 M – 1500 M), seni adalah sesuatu yang bisa menggambarkan kekuasaan Tuhan. Dalam agama Kristen di Barat, seni tampak pada patung-patung mengenai Yesus Kristus, hiasan pada biara, tabut yang selalu menemani peralatan suci, dan relik yang dipuja oleh masyarakat setempat.
Seni pada masa ini, masih memiliki identitas yang sama dengan seni yang terjadi pada masa pra sejarah. Tujuannya adalah untuk urusan kepercayaan.
Ternyata, pada masa ini, sejarah seni tertulis berbeda. Dari sini, seni dan iman manusia merupakan perpaduan. Seni juga menggambarkan penghormatan kepada keluarga raja. Koin-koin emas dicetak dengan wajah penguasa. Kepercayaan dan kekuasaan disimbolkan melalui berbagai karya seni.
Di Baghdad dari periode medieval yang sama. Aliran seni baru tengah tumbuh. Islam yang ‘mengawasi’ seni agar tidak muncul kepada pemujaan yang berlebihan terhadap sisi objek, memberikan sumbangsih seni baru yang tak pernah ada sebelumnya, yakni iconografi dan kaligrafi.Tujuan lain pun dimiliki. Bahwa batasan antara seni dan kepercayaan harus lebih dipertegas. Tidak boleh bercampur, abstrak atau saling tindih.
Iconografi merupakan penggambaran estetik kepada dunia materi. Dunia materi disimulasi dalam beberapa tingkatan, ini menggambarkan seni Islam yang rumit. Adapun kaligrafi adalah mencoba beberapa kemungkinan seni terhadap huruf dan naskah dari kitab suci Alquran. Keindahan dari goresan-goresan huruf arab yang dirangkai dengan sempurna adalah seni yang dimaksudkan.

Sejarah Seni Modern dan Kontemporer
Sejarah seni modern (1500 M-sekarang), dimulai dari masa Renaisance hingga sekarang. Seni selalu beranjak dari nilai estetika yang harus dibentur-benturkan dengan situasi dan belenggu etika atau iman. Munculnya liberalisme, dan diam-diam perlawanan terhadap kekuasaan gereja adalah bentuk dari seni modern pada masa itu.
Kaum seniman di Eropa lantas mencoba melakukan purisme terhadap seni. Seni untuk seni dan seni adalah seni. Tidak boleh dihalangi dalam ekspresi. Pada masa modern, seni berkecambah bagai jamur di musim hujan. Peruntukkannya dibebaskan dari segala estetika yang telah ada. Lukisan Piccaso yang sinis dan abstrak adalah puncak dari seni modern, yang tidak ingin didikte oleh estetika manusia.
Pada masa ini, seni terbebas dari apapun. Tidak lagi berdasarkan pemujaan terhadap sesuatu yang dipercayai, tidak juga berdasarkan pada pemujaan terhadap kekuasaan seseorang. Seni terlahir benar-benar sebagai seni yang baru.
Lalu kontemporerisme. Pemikiran bukan lagi rumus matematika, melainkan setengah naluriah dan setengah lagi semangat hidup. Hal ini yang melahirkan bohemianisme di New York pada awal abad 20, yang merupakan awal dari ekspresi retrofikasi. Dunia menjiplak adalah bagian dari semangat. Para ahli sosial ikut nimbrung dan menyebutnya sebagai seni posmodernisme.
Seni mulai “nakal”. Tidak lagi berdasarkan pada hitungan-hitungan pasti. Tapi lebih kepada kebutuhan manusia terhadap sesuatu, atau naluri itu tadi. Dari sini, seni sepertinya menemukan identitasnya yang sesungguhnya. Bahwa, memang benar sebuah seni harusnya seperti itu. Terbebas dari aturan-aturan baku, tetapi tidak meninggalkan identitas asli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s